Bismillahirrahmaanirrahiim
Kajian Kitab AL-HIKAM
Bab I-29
Penjelasan tentang
SAMPAIKAN HAJATMU HANYA KEPADA ALLAH
"Jangan mencoba menyampaikan hajatmu selain
Allah. Dia adalah Zat yang memberikan hajatmu,
tidak mungkin kepada selain Allah hajatmu dite-
rima, padahal Allah Ta'ala adalah pemilik dan
pengatur semua hajat manusia. Orang yang tak
mampu melenyapkan keperluan untuk dirinya, ba-
gaimana ia akan mampu tidak memerlukan orang
lain."
Apabila Allah Swt. menghendaki meluluskan keperluanmu,
atau menurunkan rahmat pemberian untukmu, maka engkau
akan menerimanya, tak seorang pun yang mampu menahan-
nya. Demikian pula apabila Allah Ta'ala bermaksud me-
nahan pemberian-Nya kepadamu, maka pasti itu terjadi,
siapa pun tidak akan mampu meniadakan kehendak Allah
itu.
Dengan tegas ditolak oleh syariat Islam, apabila ada
muslim yang bermohon keperluannya, baik yang bersifat
duniawi, ataupun yang bersifat ukhrawi, kepada yang
bukan Allah. Permohonan kepada yang bukan Allah, sama
halnya dilaksanakan secara terang-terangan atau secara
samar-samar, termasuk ke dalam perbuatan meminta perto-
longan kepada yang bukan Allah. Perbuatan seperti ini
dinamakan syirik. Apalagi kalau perbuatan syirik ini
dibiasakan karena takut, karena resah gelisah, atau ka-
rena mempunyai keinginan agar cepat terlaksana. Me-
nyampaikan hajat seseorang dengan membiasakan diri de-
ngan sengaja maupun tidak, selain hukumnya syirik, ia
sudah melibatkan dirinya ke dalam perbuatan khurafat,
kotor dan menipu diri sendiri serta orang lain. Per-
buatan khurafat lalu menjadi syirik, disebabkan jiwa
manusia dan pengetahuan seseorang kosong dari penger-
tian iman yang sebenarnya. Perbuatan seperti ini di-
lakukan oleh orang-orang jahil dan dungu, karena akal-
nya tidak berperanan dan imannya kosong dari akidah
yang murni. Mendatangai kuburan yang dianggap keramat,
atau kuburan orang-orang tua yang semasa hidupnya alim
dan saleh, atau kuburan Kiai yang semasa hidupnya memi-
liki kemampuan rohani dan makrifat kepada Allah yang
tinggi, dan yang serupa dengan itu, sangat baik, apa-
bila perbuatan ini, bermaksud ziarah untuk memanjatkan
doa kehadirat Allah, bagi yang ada di dalam kubur itu
hukumnya sunat.
Akan tetapi apabila menziarahkan kuburan seperti itu
dengan maksud menyampaikan hajat dari peziarah untuk
keperluan pribadinya atau orang lain, maka perbuatan
seperti ini hukumnya haram, karena perbuatannya ter-
masuk mensyerikat Allah. Termasuk dalam perilaku se-
perti ini, sama dengan perilaku menyembah berhala, ka-
rena menempatkan benda mati sebagai tempat bersandar
dan tempat meminta selain Tuhan, berpengertian menem-
patkan kuburan itu sebagai Tuhan, atau benda-benda ser-
ta adat dan tradisi yang serupa dengan itu, tempat me-
nyampaikan hajat manusia.
Agama Islam mengatur hubungan abid dengan ma'bud (ma-
nusia sebagai hamba dengan Allah yang disembah), de-
ngan ketentuan yang sudah dibakukan dalam akidah Islam
(Aqaid), sesuai dengan wahyu Allah (Al Quran dan Sunah
Nabi Muhammad Saw.).
Mengapa hajat kita dimintakan kepada benda-benda mati,
atau kepada makhluk yang sama sekali tidak mampu meno-
long dirinya sendiri? Adalah sangat mustahil, sesuatu
yang bukan Allah Rabbul Alamin bisa merubah nasib ma-
nusia, dan mengabulkan hajat yang diinginkan padahal
benda atau tempat yang kita minta, tidak abadi, sewak-
tu-waktu rusak, atau berkarat, atau hilang, atau beru-
bah bentuk karena telah tua. Allah Jalla Jalaluh,
Yang Maha Mulia dan Maha Agung tidak bersifat seperti
itu.
Agama Islam dan syariatnya menolak anggapan bahwa roh
orang yang mati sanggup mengabulkan permintaan orang
yang hidup, dan mengajaknya berdialog, atau kadang-
kadang menyelusup ke dalam diri seseorang. Perbuatan
seperti ini jelas-jelas berlawanan dengan akidah dan
Tauhid Islam. Ajaran seperti ini berasal dari ajaran
Hindu dan Kristen, adanya keserupaan dan inkarnasi.
Mendekati Allah seperti ini selain sesat, juga menye-
satkan.
Pada dasarnya semua perilaku seperti yang sudah dise-
but di atas, termasuk menipu diri sendiri dan menipu
orang lain, serta sangat menyesatkan, karena membuat
orang menjadi bodoh. Oleh karena itu ingat kembali,
ungkapan dari Syek Ahmad Ataillah agar menyampaikan
hajat diri kita semata-mata kepada Allah, jangan ke-
pada yang bukan Allah. Jangan tertipu oleh kehebatan
manusia atau benda dan makhluk lainnya, lalu kita me-
ngikutinya dan menempatkannya sebagai tempat bergan-
tung dan menyampaikan hajat kita.
*****
___________________________________________________________
Mutu Manikam Dari Kitab Al Hikam
Judul Asli : Al Hikam
Karya : Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah
Pensyarah : Syekh Muhammad bin Ibrahim Ibnu 'Ibad
Penyadur : Djamal'uddin Ahmad Al Buny
Ikhtisar & Penyunting :
Abu Hakim, Kartowiyono Lc.,
Husin Abdullah
Penerbit : Mutiara Ilmu - Surabaya
Read More..