Popular Posts

Widget by Blogger Buster

Popular Posting

Read more: http://template-tutorial.com/2009/06/popular-post-widget-for-blogger-blogs.html#ixzz0a09L4lPq

rss

Saturday, November 7, 2009

Kajian Kitab AL-HIKAM 1-29

Bismillahirrahmaanirrahiim



Kajian Kitab AL-HIKAM

Bab I-29





Penjelasan tentang

SAMPAIKAN HAJATMU HANYA KEPADA ALLAH







"Jangan mencoba menyampaikan hajatmu selain

Allah. Dia adalah Zat yang memberikan hajatmu,

tidak mungkin kepada selain Allah hajatmu dite-

rima, padahal Allah Ta'ala adalah pemilik dan

pengatur semua hajat manusia. Orang yang tak

mampu melenyapkan keperluan untuk dirinya, ba-

gaimana ia akan mampu tidak memerlukan orang

lain."





Apabila Allah Swt. menghendaki meluluskan keperluanmu,

atau menurunkan rahmat pemberian untukmu, maka engkau

akan menerimanya, tak seorang pun yang mampu menahan-

nya. Demikian pula apabila Allah Ta'ala bermaksud me-

nahan pemberian-Nya kepadamu, maka pasti itu terjadi,

siapa pun tidak akan mampu meniadakan kehendak Allah

itu.



Dengan tegas ditolak oleh syariat Islam, apabila ada

muslim yang bermohon keperluannya, baik yang bersifat

duniawi, ataupun yang bersifat ukhrawi, kepada yang

bukan Allah. Permohonan kepada yang bukan Allah, sama

halnya dilaksanakan secara terang-terangan atau secara

samar-samar, termasuk ke dalam perbuatan meminta perto-

longan kepada yang bukan Allah. Perbuatan seperti ini

dinamakan syirik. Apalagi kalau perbuatan syirik ini

dibiasakan karena takut, karena resah gelisah, atau ka-

rena mempunyai keinginan agar cepat terlaksana. Me-

nyampaikan hajat seseorang dengan membiasakan diri de-

ngan sengaja maupun tidak, selain hukumnya syirik, ia

sudah melibatkan dirinya ke dalam perbuatan khurafat,

kotor dan menipu diri sendiri serta orang lain. Per-

buatan khurafat lalu menjadi syirik, disebabkan jiwa

manusia dan pengetahuan seseorang kosong dari penger-

tian iman yang sebenarnya. Perbuatan seperti ini di-

lakukan oleh orang-orang jahil dan dungu, karena akal-

nya tidak berperanan dan imannya kosong dari akidah

yang murni. Mendatangai kuburan yang dianggap keramat,

atau kuburan orang-orang tua yang semasa hidupnya alim

dan saleh, atau kuburan Kiai yang semasa hidupnya memi-

liki kemampuan rohani dan makrifat kepada Allah yang

tinggi, dan yang serupa dengan itu, sangat baik, apa-

bila perbuatan ini, bermaksud ziarah untuk memanjatkan

doa kehadirat Allah, bagi yang ada di dalam kubur itu

hukumnya sunat.




Akan tetapi apabila menziarahkan kuburan seperti itu

dengan maksud menyampaikan hajat dari peziarah untuk

keperluan pribadinya atau orang lain, maka perbuatan

seperti ini hukumnya haram, karena perbuatannya ter-

masuk mensyerikat Allah. Termasuk dalam perilaku se-

perti ini, sama dengan perilaku menyembah berhala, ka-

rena menempatkan benda mati sebagai tempat bersandar

dan tempat meminta selain Tuhan, berpengertian menem-

patkan kuburan itu sebagai Tuhan, atau benda-benda ser-

ta adat dan tradisi yang serupa dengan itu, tempat me-

nyampaikan hajat manusia.



Agama Islam mengatur hubungan abid dengan ma'bud (ma-

nusia sebagai hamba dengan Allah yang disembah), de-

ngan ketentuan yang sudah dibakukan dalam akidah Islam

(Aqaid), sesuai dengan wahyu Allah (Al Quran dan Sunah

Nabi Muhammad Saw.).



Mengapa hajat kita dimintakan kepada benda-benda mati,

atau kepada makhluk yang sama sekali tidak mampu meno-

long dirinya sendiri? Adalah sangat mustahil, sesuatu

yang bukan Allah Rabbul Alamin bisa merubah nasib ma-

nusia, dan mengabulkan hajat yang diinginkan padahal

benda atau tempat yang kita minta, tidak abadi, sewak-

tu-waktu rusak, atau berkarat, atau hilang, atau beru-

bah bentuk karena telah tua. Allah Jalla Jalaluh,

Yang Maha Mulia dan Maha Agung tidak bersifat seperti

itu.



Agama Islam dan syariatnya menolak anggapan bahwa roh

orang yang mati sanggup mengabulkan permintaan orang

yang hidup, dan mengajaknya berdialog, atau kadang-

kadang menyelusup ke dalam diri seseorang. Perbuatan

seperti ini jelas-jelas berlawanan dengan akidah dan

Tauhid Islam. Ajaran seperti ini berasal dari ajaran

Hindu dan Kristen, adanya keserupaan dan inkarnasi.

Mendekati Allah seperti ini selain sesat, juga menye-

satkan.



Pada dasarnya semua perilaku seperti yang sudah dise-

but di atas, termasuk menipu diri sendiri dan menipu

orang lain, serta sangat menyesatkan, karena membuat

orang menjadi bodoh. Oleh karena itu ingat kembali,

ungkapan dari Syek Ahmad Ataillah agar menyampaikan

hajat diri kita semata-mata kepada Allah, jangan ke-

pada yang bukan Allah. Jangan tertipu oleh kehebatan

manusia atau benda dan makhluk lainnya, lalu kita me-

ngikutinya dan menempatkannya sebagai tempat bergan-

tung dan menyampaikan hajat kita.



*****

___________________________________________________________



Mutu Manikam Dari Kitab Al Hikam

Judul Asli : Al Hikam

Karya : Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah

Pensyarah : Syekh Muhammad bin Ibrahim Ibnu 'Ibad

Penyadur : Djamal'uddin Ahmad Al Buny

Ikhtisar & Penyunting :

Abu Hakim, Kartowiyono Lc.,

Husin Abdullah

Penerbit : Mutiara Ilmu - Surabaya

Related Posts by Categories



0 komentar:


Post a Comment