Oleh Hery Sucipto
Aisyah ra bertutur bahwa nabi saw pernah melakukan suatu amalan yang memperlihatkan kemurahan (agama) di dalamnya, dan ada beberapa orang yang menolak melakukannya. Ketika hal itu sampai kepada nabi saw, beliau pun berkhotbah. Sabdanya setelah memuji Allah, ''Mengapa ada orang-orang yang menolak sesuatu yang aku sendiri melakukannya? Demi Allah, sesungguhnya aku lebih tahu tentang Allah dan lebih takut kepada-Nya daripada mereka.''
Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, ''Hadis ini mengandung anjuran untuk mengikuti jejak nabi saw dan larangan memberat-beratkan ibadah serta kecaman terhadap sikap menolak melakukan sesuatu yang mubah hanya karena ragu-ragu tentang kemubahannya...''
Dari banyak hadits diketahui bahwa nabi saw memang tidak hanya menegaskan kemudahan agama, tetapi juga mencontohkan dan menganjurkan untuk tidak memberat-beratkan agama. Barangkali ini termasuk juga dalam pengertian salah satu ciri nabi saw, ''bilmukminiin rauufun rahiem'' --''kepada orang-orang yang beriman penuh belas kasih''-- (QS 48:29).
Kita mesti bersyukur bahwa penganugerahan Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam serta pendeklarasian Islam sebagai agama terakhir dari Allah memiliki karakteristik khusus, sebagaimana ditegaskan hadits nabi tersebut. Sebut saja, misalnya, ayat bahwa ''Allah tidak membebani seseorang (melakukan perintahnya) kecuali yang ia mampu'' dalam surat Albaqarah. Jelas ayat ini justru menginginkan amalan suatu hamba sejauh dia mampu, tanpa dipaksa-paksakan untuk ''mampu''.
Dalam masyarakat kita dewasa ini ada semacam kecenderungan di kalangan kaum Muslimin untuk memberat-beratkan agama secara umum dan ibadah secara khusus. Ini suatu sikap yang seringkali malah melahirkan kendala berat bagi terwujudnya ukhuwwah, bahkan dapat mengurangi citra rahmah dan keramahan Islam. Apakah ini hasil dari reaktualisasi pemahaman agama karena meningkatnya kehati-hatian, atau justru karena kekurangpahaman terhadap ajaran agama itu sendiri?
Hadits Aisyah tersebut menyiratkan bahwa kemudahan tidak harus bertentangan dengan kehati-hatian dan ketakwaan. Bahkan kemudahan yang selaras dengan perilaku nabi saw tentu termasuk bagian dari kehati-hatian atau ketakwaan.
0 komentar:
Post a Comment