Popular Posts

Widget by Blogger Buster

Popular Posting

Read more: http://template-tutorial.com/2009/06/popular-post-widget-for-blogger-blogs.html#ixzz0a09L4lPq

rss

Friday, November 20, 2009

Amal yang Tetap Bermakna

Amal yang Tetap Bermakna

(KH. Abdullah Gymnastiar)



Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi

perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna.

Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya

adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang

dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan,

meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH

datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya

bersenang-senang bersama ALLOH malah menghilang.





Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja

ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu,

tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun

terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru

malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih

lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.



Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup

terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak, tiba-tiba

dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu

kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.



Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala

digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi

sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan

cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain

jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik

ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal

yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi

kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.



Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas,

maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan

terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera

saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi

kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan

bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.



Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi

ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda

dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus

ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut

dihormati dan disegani.



Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas

ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi

pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan

berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang

bagus.



Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali

ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi

diucapkannya, "

Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal

kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya

berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan

kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.



Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak

mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di

kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan

sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk

adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.



Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya

di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi

makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan

nikmatnya.



Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan

karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut

Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2)

Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya?

Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka

inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub,

maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya

sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka

inilah kendaran untuk diri sendiri.



Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah

karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh

kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa

meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah".

Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya,

tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam

timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat,

maka kita juga yang akan menanggungnya.



Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh

pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum

mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati

sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin

tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi

tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat

kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu

ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun

tahajud.





Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang

ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian

shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang

yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALLOH, maka

kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin

ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH

Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah

defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang

menidurkan kita dengan pulas.



Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap

bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala

yang setimpal. Subhanallah. ***


Related Posts by Categories



0 komentar:


Post a Comment